Sabtu, 01 Maret 2014

makalaah Aliran-aliran pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Gagasan dan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan dinamika manusia dan masyarakatnya. Dari dulu sampai sekarang ini pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik, dan masalah sukses tidaknya pendidikan tidak lepas dari faktor perkembangan sosial budaya dan perkembangan iptek. Aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan pendidikan. Pertama, “teori” dipergunakan oleh para pendidik untuk menunjukkan hipotesis-hipotesis tertentu dalam rangka membuktikan kebenaran-kebenaran melalui eksperimentasi dan observasi serta berfungsi menjelaskan pokok bahasannya. O’Connor mendenifisikan istilah “teori” dengan:
“Kata “teori” sebagaimana yang dipergunakan dalam konteks pendidikan secara umum adalah sebuah tema yang apik. Teori yang dimaksudkan hanya dianggap absah manakala kita tetapkan hasil-hasil eksperimental yang dibangun dengan baik dalam bidang psikologi atau sosiologi hingga sampai kepada praktek kependidikan”.

Muhammad Nujayhi, seorang ahli pendidikan Mesir Kontemporer merefleksikan pandangan senada dengan O’connor ketika mengatakan, bahwa perkembangan-perkembangan di bidang psikologi eksperimental membawa kesan-kesan ke dalam dunia pendidikan dan memberi sumbangan bagi teori-teori pendidikan, sebagaimana yang terdapat pada bidang ilmu pengetahuan khusus. Dengan demikian, “teori” dalam arti pertama terbatas pada penjelasan mengenai persoalan-persoalan yang berkaitan dengan batas-batasan ilmiah.
Kedua, “teori” menunjuk kepada bentuk asas-asas yang saling berhubungan yang mengacu kepada petunjuk praktis. Dalam pengertian ini, bukan hanya mencangkup pemindahan-pemindahan eksplanasi fenomena yang ada, namun termasuk di dalamnya mengontrol atau membangun pengalaman.
Pemikiran-pemikiran  dalam pendidikan berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan yakni pemikiran-pemikiran terdahulu yang ditanggapi oleh pro dan contra oleh pemikir-pemikir berikutnya. Pemahaman terhadap pemikiran-pemikiran penting dalam pendidikan akan membekali tenaga kependidikan dengan wawasan kesejarahan.
Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda yang memerlukan pendidikan yang lebih baik. Didalam berbagai kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai dari zaman yunani kuno sampai saat ini.
                   Pembawaan dan lingkungan merupakan hal yang tidak mudah untuk di jelaskan sehingga memerlukan penjelasan dan uraian yang tidak sedikit. Telah bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi dan lain-lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban tentang perkembangan manusia. Perkembangan manusia  itu sebenarnya bergantung kepada pembawaan ataukah lingkungan. Dalam hal ini, penulis akan memaparkan beberapa pendapat dari aliran-aliran klasik di antaranya, aliran nativisme, naturalisme, empirisme, dan konvergensi, dan juga terdapat aliran baru diantaranya, aliran fungsionaris, aliran kulturalisme, aliran kritikal, aliran interpelatif, dan aliran modern serta pengaruhnya terhadap pemikiran dan praktek pendidikan di Indonesia.
1.2  Rumusan Masalah
Apa pengertian Aliran Nativisme, Empirisme, Konvergensi, Naturalisme, Progresivisme, Konstruktivisme.?
1.3  Tujuan
Dalam pembahasan kali ini pemakalah mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pendapat aliran-aliran  pendidikan.
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Dasar Pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Aliran-Aliran Pendidikan
Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan. Pemikiran tersebut berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan, yakni pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir berikutnya, sehingga timbul pemikiran yang baru, dan demikian seterusnya. Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia karena setiap kelompok manusia selalu dihadapakan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam berbagai kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai dari zaman yunani kuno sampai sekarang.

2.2 Aliran Kalasik Dan Gerakan Baru Dalam Pendidikan
Aliran-aliran klasik yang meliputi aliran-aliran empirisme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini, dan mungkin yang akan datang. Aliran-aliran itu mewakili berbagai variasi pendapat tentang pendidikan, mulai dari yang pesimis yang memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat bahkan merusak bakat yang telah dimiliki anak sampai dengan yang optimis yang memandang bahwa anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati.
Selanjutnya, terdapat beberapa gagasan yang lebih bersifat satu gerakan dalam pendidikan yang pengaruhnya masih terasa sampai kini, yakni gerakan-gerakan pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, dan pengajara proyek. Gerakan-gerakan tersebut dapat dikaji untuk memperkuat wawasan dan pengetahuan tentang pengajaran. Seperti telah dikatakan bahwa pengajaran merupakan pilar penting dari kegiatan pendidikan di sekolah, utamanya kalau dilakukan dalam pengajaran yang sekaligus mendidik.

2.2.1 Aliran-Aliran Klasik dalam Pendidikan Dan Pengaruhnya Terhadap  Pemikiran Pendidikan di Indonesia
Aliran-aliran itu pada umumnya mengemukakan satu faktor dominan tertentu saja, dan dengan demikian, suatu aliran dalam pendidikan akan mengajukan gagasan untuk mengoptimalkan faktor tersebut untuk mengembangkan manusia.
a. Aliran Empirisme
Aliran empirisme bertolak dari  Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Tokoh perintis ini adalah seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Menurut pandangan empirisme pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman  yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Penganut aliran ini masih tampak pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai makhluk pasif dan dapat dimanipulasi, umpama melalui modifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada pandangan scientific psychology dai B.F. Skinner ataupun pandangan behavioral lainnya. Pandangan behavioral ini masih juga bervariasi dalam menentukan faktor apakah yang paling utama dalam proses belajar itu, sebagai berikut:
1)      Pandangan yang menekankan stimulus (rangsangan) terhadap prilaku seperti dalam “classical condidtioning” atau “respondent learning”.
2)      Pandangan yang menekankan peranan dari dampak ataupun balikan dari sesuatu prilaku seperti dalam “operant conditioning” atau “instrumental learning”.
3)      Pandangan yang menekankan peranan pengamatan dan imitasi seperti dalam “observational learning”, “social learning and imitation”, “participant modelling”,dan  “self-efficacy”.
b. Aliran Nativisme
Aliran nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Schopenhauer berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir dan wataknya tidak bisa dipengaruhi oleh lingkungan. Berdasarkan pandangan ini maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Istilah nativisme dari asala kata natie yang artinya adalah terlahir. Terdapat satu pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas yakni bahwa dalam diri individu terdapat satu inti pribadi yang mendorong manusia untuk mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan yang menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemauan bebas. Pandangan-pandangan tersebut tampak anatara lain humanistik psychology dari Carl R. Rogers ataupun pandangan phenomenology/ humanistik lainnya. Pengalaman belajar ditentukan oleh “internal frame of refrence” yang dimilikinya. Terdapat variasi pendapat dari pendekatan phenomenology/humanistik tersebut sebagai berikut:
1)      Pendekatan aktualisasi diri atau non-direktif (client centered) dari Carl R. Rogers dan Abraham Maslow.
2)      Pendekatan “personal construct” dari George A. Kelly yang menekankan betapa pentingnya memahami hubungan “transaksional” antara manusia dan lingkungannya sebagai bekal awal memahami perilakunya.
3)      Pendekatan “Gestalt”, baik yang klasik maupun pengembangan selanjutnya.
4)      Pendekatan “search for meaning” dengan aplikasinya sebagai “Logotherapy” dari Viktor Franki yang mengungkapkan betapa pentingnya semangat (human spirit) untuk mengatasi berbagai tantangan/masalah yang dihadapi.
c. Aliran Naturalisme
Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah aliran naturalisme yang dipelopori oleh seorang filsuf Prancis J.J. Rousseau (1712-1778). Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Aliran ini juga disebut negativisme, karena berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Jadi dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan. J.J. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat (artificial) sehingga kebaikan anak-anak yang diperoleh secara alamiyah sejak kelahirannya itu tampak secara spontan dan bebas. Seperti diketahui, gagasan naturalisme yang menolak campur tangan pendidikan, sampai saat ini tidak terbukti malahan terbukti sebaliknya: pendidikan makin lama makin diperlukan.
d. Aliran Konvergensi
Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang tanpa adanya lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan yakni:
a  -----------------------
                                                      
                                                                                  c
                                                                                 
b -----------------------
a)      Pembawaan
b)      Lingkungan
c)      Hasil pendidikan atau perkembangan
Karena itu, teori W. Stern disebut tori konvergensi (konvergen artinya memusat ke satu titik). Jadi menurut teori konvergensi:
1)      Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan.
2)      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.
3)      Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia. Terdapat variasi pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh-kembang itu. Variasi pendapat tersebut melahirkan berbagai pendapat/gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator ataukah informator, teknik penilaian pencapaian siswa dengan tes objektif atau tes esai, perumusan tujuan pengajaran yang sangat behavioral, penekanan pada peran teknologi pengajaran (The Teaching Machine, belajar berprogram, dan lain-lain), dan sebagainya.

2.3 Aliran-Aliran Baru dalam Pendidikan
Di dalam perkembangan pendidikan dewasa ini dapat kita identifikasi lima aliran besar yaitu :
a.    Aliran Fungsionaris
Tokoh aliran ini adalah Durkheim dan Parsons. Aliran fungsionalisme berpendapat fungsi pendidikan masa kini adalah transmisi kebudayaan dan mempertahankan tatanan sosial yang ada. Masa depannya mempersiapkan dengan mendengarkan fungsi-fungsi dalam masyarakat masa depan.
b. Aliran Kulturalisme
Tokoh aliran ini adalah Brameld dan Ki Hajar Dewantara. Aliran ini melihat fungsi pendidikan masa kini sebagai upaya untuk merekontruksi masyarakat. Masyarakat mempunyai masalah-masalah yang dihadapi dan upaya pendidikan adalah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut seperti identitas bangsa, benturan kebudayaan, preservasi dan pengembangan budaya. Fungsi pendidikan adalah menata masyarakat berdasarkan budaya yang universal dengan berdasarkan budaya lokal yang berkembang ke arah kebudayaan nasional dan kebudayaan global seperti Trikon dari Ki Hajar Dewantara.
c. Aliran Kritikal
Freire menggaris bawahi dalam pendidikan terdapat tiga unsur fundamental yakni: pengajar, peserta didik dan realitas dunia. Hubungan antara unsur pertama dengan unsur kedua seperti halnya teman yang saling melengkapi dalam proses pembelajaran. Keduanya tidak berfungsi secara struktural formal yang nantinya akan memisahkan keduanya. Bahkan Freire mengarai bahwa hubungan antara pengajar dan peserta didik yang bersifat struktural formal hanya akan melahirkan “pendidikan gaya bank” (banking consept of education).
Posisi pengajar dan peserta didik oleh Freire dikategorikan sebagai subyek “yang sadar” (cognitive). Artinya kedua posisi ini sama-sama berfungsi sebagai subyek dalam proses pembelajaran. Peran guru hanya mewakili dari seorang teman (partnership) yang baik bagi muridnya. Adapun posisi realitas dunia menjadi medium atau obyek “yang disadari” (cognizable). Disinilah manusia itu belajar dari hidupnya. Dengan begitu manusia dalam konsep pendidikan Freire mendapati posisi sebagai subyek aktif. Manusia kemudian belajar dari raelitas sebagai medium pembelajaran.
d. Aliran Interpelatif
Tokoh aliran ini Bernstein. Menurut aliran ini tugas pendidikan adalah mengajarkan berbagai peran dalam masyarakat melalui program-program dalam kurikulum. Sedangkan untuk masa depan pendidikan berfungsi menghilangkan berbagai bias budaya dan kelas-kelas sosial yang membedakan antar kelompok elit dan rakyat jelata yang miskin.
e.  Aliran Modern
Tokoh aliran ini adalah Derrida, Foucalt, Gramsci. Bagi mereka fungsi pendidikan masa kini adalah transmisi ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan masyarakat masa depan perlu menghargai kebhinekaan dan keberagaman pendapat. Fungsi pendidikan adalah membina pribadi-pribadi yang bebas merumuskan pendapat dan menyatakan pendapatnya sendiri dalam berbagai perspektif. Individu yang diinginkan adalah individu yang kreatif dan berfikir bebas termasuk berfikir produktif.

2.4 Pengaruh Aliran Klasik Terhadap Pemikiran dan Praktek Pendidikan di Indonesia
Aliran-aliran pendidikan yang klasik mulai dikenal di Indonesia melalui upaya-upaya pendidikan, utamanya persekolahan, dari penguasa penjajah Belanda dan disusul kemudian oleh orang-orang Indonesia yang belajar di negeri Belanda pada masa penjajahan. Seperti telah dikemukakan, tumbuh kembang manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni hereditas, lingkungan, proses perkembangan itu sendiri, dan anugerah. Faktor terkhir itu merupakan pencerminan pengakuan atas adanya kekuasaan yang ikut menentukan nasib manusia.
Khusus dalam latar persekolahan, kini terdapat sejumlah pendapat yang lebih menginginkan agar sejumlah peserta didik lebih ditempatkan pada posisi yang seharusnya, yakni sebagai manusia yang dapat dididik dan juga dapat mendidik dirinya sendiri. Hubungan pendidik dan peserta didik seyogyanya adalah hubungan yang setara antara dua pribadi, meskipun yang satu lebih berkembang dari yang lain. Hubungan tersebut sesuai dengan asas “ing ngarsa sung tulada”, “ing madya mangun karsa”, dan “asas tut wuri handayani”, serta pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA) dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, cita-cita pendidikan seumur hidup dapat diwujudkan melalui belajar seumur hidup.
2.5 Gerakan Baru Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pelaksanaan Pedidikan di Indonesia
Gerakan-gerakan baru dalam pendidikan pada umumnya adalah upaya peningkatan mutu pendidikan hanya dalam satu atau beberapa komponen saja dimana antar komponen saling mempengaruhi. Beberapa dari gerakan-gerakan baru tersebut memusatkan diri pada perbaikan dan peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar pada sistem persekolahan, seperti pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, pengajaran proyek, dan sebagainya.
a.       Pengajaran Alam Sekitar
Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar, perintis gerakan ini antara lain: Fr. A. Finger (1808-1888) di Jerman dengan heimatkunde (pengajaran alam sekitar), dan J. Lightart (1859-1916) di belanda dengan Het Volle Leven (kehidupan senyatanya). Beberapa prinsip pergerakan hemaitkunde adalah:
1) Dengan pengajaran alam sekitar itu guru dapat memperagakan secara langsung.
2) Pengajaran alam sekitar memberikan kesempatan yang sebanyak-banyaknya agar anak aktif atau giat tidak hanya duduk, dengar, atau catat saja.
3) Pengajaran alam sekitar memungkinkan untuk memberikan pengajaran totalitas.
4) Pengajaran alam sekitar memberi kepada anak bahan apersepsi intelektual yang kukuh dan tidak verbalistis. Yang dimaksud dengan apersepsi intelektual adalah segala sesuatu yang baru masuk di dalam intelek anak.
5) Pengajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional, karena alam sekitar mempunyai ikatan emosional dengan anak.
Sedangkan J. Lightart mengemukakan pegangan dalam Het Volle Leven sebagai berikut:
1)      Anak harus mengetahui barangnya terlebih dahulu sebelum mendengar namanya, tidak kebalikannya, sebab kata itu hanya suatu tanda dari pengertian tentang barang itu.
2)      Pengajaran sesungguhnya harus mendasarkan pada pengajaran selanjutnya atau mata pengajaran yang lain harus dipusatkan atas pengajaran itu.
3)      Haruslah diadakan perjalanan memasuki hidup senyatanya kesemua jurusan, agar murid faham akan hubungan antara bermacam-macam lapangan dalam hidupnya (pengajaran alam sekitar). Dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber belajar, anak akan lebih menghargai, mencintai, dan melestarikan lingkungannya.
b. Pengajaran Pusat Perhatian
Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Ovideminat (1871-1932) dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat (centres d’interet), disamping pendapatnya tentang pengajaran global. Pendidikan menurut Decroly berdasar pada semboyan :Ecole pour la vie, par la vie (sekolah untuk hidup dan oleh hidup). Anak harus didik untuk dapat hidup dalam masyarakat dan dipersiapkan dalam masyarakat, anak harus diarahkan kepada pembentukan individu dan anggota masyarakat. Dari penelitian secara tekun, Decroly menyumbangkan dua pendapat yang sangat berguna bagi pendidikan dan pengajaran, yang merupakan dua hal yang khas dari Declory, yaitu:
1)      Metode global (keseluruhan). Hal ini berdasar atas prinsip psikologi Gestalt. Methode ini bersifat video visual sebab arti sesuatu kata yang diajarkan itu selalu di asosiasikan dengan tanda atau tulisan, atau suatu gambar yang dapat dilihat.
2)      Centre d’ interet (pusat-pusat minat). Pengajaran harus disesuaikan dengan minat-minat spontan masing-masing anak. Anak mempunyai minat-minat spontan terhadap diri sendiri dan minat tersebut dapat dibedakan menjadi:
(a)    Dorongan mempertahankan diri
(b)   Dorongan mencari makan dan minum
(c)    Dorongan memelihara diri
Sedangkan minat terhadap masyarakat (biososial) adalah:
(a)    Dorongan sibuk bermain-main
(b)   Dorongan meniru orang lain
Pendidikan dan pengajaran harus selalu dihubungkan dengan pusat-pusat minat tersebut. Pemusatan perhatian dalam pengajaran biasanya dilakukan bukan hanya pada pembukaan pengajaran, tetapi juga pada setiap kali akan membahas sub topik baru.
c. Sekolah Kerja
J.A Comenius menekankan agar pendidiakn mengembangkan fikiran, ingatan,  bahasa, dan tangan (keterampilan, kerja tangan).  Perlu dikemukakan bahwa sekolah kerja itu bertolak dari pandangan bahwa pendidikan tidak hanya kepentingan bagi individu tetapi juga demi kepentingan masyarakat.
Menurut G.  Kerschensteiner tujuan sekolah adalah:
1)        Menambah pengetahuan anak, yaitu pengetahuan yang didapat dari buku atau orang lain, dan yang didapat dari pengalaman sendiri.
2)        Agar anak dapat memiliki kemampuan dan kemahiran tertentu.
3)        Agar anak dapat memiliki pekerjaan sebagai persiapan jabatan dalam mengabdi negara.
Kerschensteiner berpendapat bahwa kewajiban sekolah adalah mempersiapkan anak-anak untuk dapat bekerja. Oleh karena itu, sekolah kerja dibagi menjadi tiga golongan besar:
1)        Sekolah-sekolah perindustrian (tukang cukur, tukang cetak, tukang kayu, tukang daging, masinis, dan lain-lain).
2)        Sekolah-sekolah perdagangan (makanan, pakaian, bank, asuransi, pemegang buku, porselin, pisau, dan gunting dari besi, dan lain-lain).
3)        Sekolah-sekolah rumah tangga, bertujuan mendidik para calon ibu yang diharapkan akan mengahsilkan warga negara yang baik.
Pengikut Kerschensteiner antara lain ialah Leo De Paeuw. Leo membuka lima macam sekolah kerja yaitu:
(1)   Sekolah teknik kerajinan,
(2)   Sekolah pertanian bagi anak laki-laki,
(3)   Sekolah dagang,
(4)   Sekolah rumah tangga kota,
(5)   Sekolah rumah tangga desa.
Gagasan sekolah kerja sangat mendorong berkembangnya sekolah kejuruan di setiap negara, termasuk di indonesia.
d. Pengajaran Proyek
Dasar filosifis dan pedagogis dari pengajaran-pengajaran proyek diletakkan oleh John Dewey (1859-1952). Dewey menegaskan bahwa sekolah haruslah sebagai mikrokosmos dari masyarakat, oleh karena itu pendidikan adalah suatu proses kehidupan itu sendiri dan bukannya penyiapan untuk kehidupan di masa depan.
Dalam pengajaran proyek anak bebas menetukan pilihannya (terhadap pekerjaan), merancang, serta memimpinnya. Yang perlu ditekankan bahwa pengajaran proyek akan menumbuhkan kemampuan untuk memandang dan memecahkan persoalan secara komperehensif. Dengan kata lain, menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah secara multidisiplin.
Gerakan-gerakan baru tidak diadopsi seutuhnya di suatu masyarakat atau negara tertentu, namun asas pokoknya menjiwai kebijakan-kebijakan pendidikan dalam masyarakat atau negara tersebut. Kajian tentang pemikiran-pemikiran pendidikan pada masa lalu akan sangat bermanfaat untuk  memperluas pemahaman tentang seluk-beluk pendidikan, serta memupuk wawasan hitoris dari setiap tenaga kependidikan.

2.6 Dua “Aliran” Pokok Pendidikan Di Indonesia
Dua aliran pokok pendidikan di indonesia itu dimaksudkan adalah perguruan kebangsaan Taman Siswa dan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam. Perlu dikemukakan bahwa prakarsa dan upaya di bidang pendidikan tidak terbatas hanya oleh Taman Siswa dan INS itu saja. Salah satu yang kini mempunyai sekolah yang tersebar di seluruh pelosok tanah air, sebagai contoh adalah muhammadiyah .sedangkan yang bercorak kebangsaan adalah perguruan kebangsaan Taman Siswa , Ruang Pendidik INS Kayu Tanam, Kesatrian Institut, Perguruan Rakyat, dan sebagainya. Setelah kemerdekaan, telah diupayakan mengembangkan suatu sistem pendidikan nasional  sesuai ketetapan ayat 2 pasal 31 dari uud 1945. Oleh karena itu, kajian terhadap dua aliran pokok tersebut (Taman Siswa dan INS) seyogyanya dalam latar sisdiknas tersebut.
1.  Perguruan Kebangsaan Taman Siswa
Perguruan Kebangsaan Taman Siswa didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni dalam bentuk yayasan, selanjutnya mulai didirikan Taman Indria (Taman Kanak-Kanak) dan Kursus Guru, selanjutnya Taman Muda (SD), Disusul Taman  Dewasa merangkap Taman Guru.
a.  Asas dan Tujuan Taman Siswa
Terdapat tujuh asas dalam Perguruan Kebangsaan Taman Siswa yang di sebut “asas 1992” adalah sebagai berikut:
a.       Setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat terbitnya persatuan dalam peri kehidupan umum. Dari asas yang pertama ini jelas bahwa tujuan yang hendak dicapai oleh Taman Siswa adalah kehidupan yang tertib dan damai (tata dan tentram, Orde on Vrede). Dari asas ini pulalah lahir “sistem among”, dalam cara mengajar guru memperoleh sebutan “pamong” yaitu sebagai pemimpin yang berdiri dibelakang dengan bersemboyan “Tut Wuri Handayani”, yaitu tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri, diperintah atau dipaksa.
b.      Pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah yang dalam arti lahir dan bathin dapat memerdekakan diri. Siswa jangan selalu dicekoki atau disuruh menerima buah fikiran saja, melainkan para siswa hendaknya dibiasakan mencari/menemukan sendiri berbagai nilai pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan fikiran dan kemampuannya sendiri.
c.       Pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
d.      Pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.
e.       Untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuhnya lahir maupun bathin hendaknya diusahakan dengan kekuatan sendiri, dan menolak bantuan apapun dan dari siapapun yang mengikat, baik ikatan lahir maupun bathin.
f.        Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan. Dari asas ini tersirat keharusan untuk hidup sederhana dan hemat.
g.      Bahwa dalam mendidik anak-anak  perlu adanya keikhlasan lahir dan bathin untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak. Asas ini disebut sebagai “asas berhamba kepada anak didik” dan di kenal dengan istilah “pamong” atau istilah sekarang pahlawan tanpa tanda jasa.
Ketujuh asas diatas diumumkan pada tanggal 3 juli 1922, bertepatan dengan berdirinya Taman Siswa, dan disahkan oleh Kongres Taman Siswa yang pertama di Yogyakarta pada tanggal 7 Agustus 1930.
Ada beberapa macam wawasan kependidikan sebagai berikut:
Pasal pertama: Disini terkandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Tujuan daripada hidup merdeka tadi, yaitu hidup tertib dan damai. Cara melaksanakan tertib harus disesuaikan dengan keadaan masing-masing anak bukan dengan sebuah kekerasan. Ketertiban yang dicapai dengan cara kekerasan atau dengan kata-kata yang kasar demikian mengakibatkan tertib namun menimbulkan kegelisahan atau menjauhkan ketentraman.
Pasal dua: Kemerdekaan  hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berfikir, yaitu jangan selalu dipelopori, atau disuruh mengakui buah fikiran orang lain, akan tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri.
Pasal tiga: dalam pasal ini, singgungan kepentingan-kepentingan umumnya disebabkan karena bangsa kita selalu menyesuaikan diri dengan hidup dan penghidupan kebarat-baratan. Hal ini terdapat pula dalam sistem kependidikan dan pengajaran, yang terlampau mengutamakan kecerdasan fikiran, hingga menyburkan jiwa intelektualitas dengan segala akibat-akibatnya.
Pasal empat: Dasar kerakyatan yakni mempertinggi pengajaran dianggap perlu, namun jangan sampai menghambat tersebarnya pendidikan dan pengajaran untuk seluruh masyarakat murba.
Pasal kelima: Merupakan asas yang sangat penting yang sungguh-sungguh berhasrat mengejar kemerdekaan hidup yang sepenunhya. Janganlah menerima bantuan yang dapat mengikat diri kita, baik berupa ikatan lahir maupun batin. Pokok dari asas kita adalah berkehendak mengusahakan kekuatan diri sendiri.
Pasal keenam: Dalam mengejar kemerdekaan, negara harus mempelajari sendiri dengan segala usaha. Sitem itu mulai dulu dikenal sebagai zelf-begrontings-systeem.
Pasal ketujuh: Pasal ini menerangkan harus adanya keikhlasan lahir dan bathin pada diri kita, untuk mengorbankan segala kepentingan kita kepada keselamatan dan kebahagiaan anak-anak yang kita didik atau berhamba kepada sang anak dengan segala hasrat dan kesucian.
Dalam perkembang selanjutnya taman siswa melengkapi “asas 1922” dengan dasar-dasar 1947 yang di sebut dengan Panca Dharma, yakni sebagai berikut:
1)      Asas kemerdekaan harus diartikan disiplin pada diri sendiri oleh diri sendiri atas dasar nilai hidup yang tinggi, baik hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
2)      Asas kodrat alam berarti bahwa pada hakikatnya manusia itu sebagai makhluk adalah satu dengan kodrat alam ini. Ia tidak bisa lepas dari kehendaknya, tetapi akan mengalami bahagia jika bisa menyatukan diri dengan kodrat alam
3)      Asas kebudayaan Tman Siswa tidak berarti asal memelihara kebudayaan kebangsaan itu ke arah kemajuan yang sesuai dengan kecerdasan zaman, kemajuan dunia, dan kepentingan hidup rakyat lahir dan bathi tiap-tiap zaman dan keadaan.
4)      Asas Kebangsaan Taman Siswa tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan, malahan harus menjadi bentuk dan fiil kemanusiaan yang nyata dan tidak mengandung permusuhan dan perpecahan.
5)      Asas kemanusiaan menyatakan bahwa dharma tiap-tiap manusia adalah mewujudkan kemanusiaan.
Tujuan perguruan Kebangsaan Taman Siswa dapat di bagi dua jenis, yakni tujuan yayasan atau keseluruhan perguruan dan tujuan pendidikan. Tujuan yang pertama (pasal 8) adalah sebagai berikut:          
1)        sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang tertib dan damai.
2)        membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin, luhur akal budinya, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyrakat yang berguna dan bertanggung jawab atas keserasian bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.
b. Upaya-Upaya Pendidikan yang Dilakukan Taman Siswa
Beberapa usaha yang dilakukan oleh Taman Siswa adalah menyiapkan peserta didik yang cerdas dan memiliki kecakapan hidup. Dalam ruang lingkup eksternal Taman Siswa membentuk pusat-pusat kegiatan kemasyarakatan.
c.  Hasil-Hasil yang Dicapai
Taman Siswa telah berhasil mengemukakan tentang pendidikan nasional, lembaga-lembaga pendidikan dari Taman Indria sampai Sarjana Wiyata. Taman siswa pun telah melahirkan alumni-alumni besar di Indonesia.
2.  Ruang Pendidik INS Kayu Tanam
Ruang Pendidik INS (Indonesia Nederlandsche School) didirikan oleh Mohammad Sjafei pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayu Tanam (Sumatera Barat).
a.  Asas dan Tujuan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam
Pada awal didirikan, Ruang Pendidik INS mempunyai asas-asas sebagai berikut
1)   Berpikir logis dan rasional
2)   Keaktifan atau kegiatan
3)   Pendidikan masyarakat
4)   Memperhatikan pembawaan anak
5)   Menentang intelektualisme
Dasar-dasar tersebut kemudian disempurnakan dan mencakup berbagai hal, seperti: syarat-syarat pendidikan yang efektif, tujuan yang ingin dicapai, dan sebagainya.
Tujuan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam adalah :
1)   Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan
2)   Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
3)   Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat
4)   Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung jawab.
5)   Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan.
b.  Usaha-Usaha Ruang Pendidik INS kayu Tanam
Beberapa usaha yang dilakukan oleh Ruang Pendidik INS Kayu Tanam antara lain menyelenggarakan berbagai jenjang pendidikan, menyiapkan tenaga guru atau pendidik, dan penerbitan majalah anak-anak Sendi, serta mencetnak buku-buku pelajaran.
c.  Hasil-hasil yang dicapai ruang pendidik INS Kayu Tanam
Ruang Pendidik INS Kayu Tanam mengupayakan gagasan-gagasan tentang pendidikan nasional (utamanya pendidikan keterampilan/kerajinan), beberapa ruang pendidikan (jenjang persekolah), dan sejumlah alumni.












BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orangtuanya. Kajian tentang berbagai aliran dan/atau gerakan pendidikan itu akan memberi pengetahuan dan wawasan historis kepada tenaga kependidikan. Hal itu sangat penting, agar para pendidik dapat memahami, dan pada gilirannya kelak dapat memberi kontribusi terhadap dinamika pendidikan itu.
 Dari pemaparan dalam pembahasan makalah dapat di simpulkan bahwa terdapat beberapa pendapat dari aliran-aliran klasik di antaranya, aliran nativisme, naturalisme, empirisme, dan konvergensi, dan juga terdapat aliran baru diantaranya, aliran fungsionaris, aliran kulturalisme, aliran kritikal, aliran interpelatif, dan aliran modern. Aliran yang sampai sekarang masih di anut oleh masyarakat adalah aliran konvergensi, karena merupakan aliran yang menggabungkan antara aliran nativisme dan empirisme dan juga merupakan aliran yang sempurna.  Sedangkan masyarakat Indonesia mayoritas juga menganut aliran konvergensi.
Pengaruh aliran klasik terhadap pemikiran dan praktek pendidikan di indonesia adalah hadirnya pemikiran bahwa pendidikan itu dilaksanakan seumur hidup tanpa ada batasan waktu dan munculnya pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA) dalam kegiatan belajar. Sedangkan pengaruh aliran baru pendidikan terhadap pelaksanaan pedidikan di Indonesia adalah terdapatnya perbaikan dan peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar pada sistem persekolahan, seperti pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian,sekolah kerja, pengajaran proyek, dan sebagainya
 Di dalam proses belajar  pembelajaran, guru harus memilih teori yang sesuai dengan karakter siswanya agar kesuksesan dapat tercapai dengan baik. dengan begitu antar guru dan siswa akan terbentuk suatu hubungan yang aktif dan interaktif.
DAFTAR PUSTAKA

Bela, Aisyah. 2012. Aliran-Aliran Pendidikan, (Online),  (http://tugaskuliah04.blogspot.com/2012/12/aliran-aliran-pendidikan-pengantar.html), diakses 18 Januari 2014.

Faisa, Dian Mbunya. -. Aliran-aliran Pendidikan, (Online), (http://www.academia.edu/3076170/Aliran-aliran_teori_pendidikan), diakses 18 Januari 2014.

Ivan. 2011. Konsep, Fungsi, Tujuan, dan Aliran-Aliran Pendidikan, (Online), (http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/03/konsep-fungsi-tujuan-dan-aliran-aliran.html), diakses 16 Januari 2014.

Tirtarahardja, Umar. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta:PT RINEKA CIPTA.

Wahyuni, Sri. 2008. Aliran-Aliran Pendidikan, (Online), (http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/06/aliran-aliran-pendidikan-esensialisme.html), diakses 16 Jauari 2014.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar